Inspiratif! Difabel di Magelang Ini Ahli Bikin Topeng Barongsai

Inspiratif! Difabel di Magelang Ini Ahli Bikin Topeng Barongsai

Inspiratif! Difabel di Magelang Ini Ahli Bikin Topeng Barongsai

 

Pandemi COVID-19 tak menghalangi Dimas Sandi Ironi (65) untuk terus memproduksi topeng barongsai. Sekalipun sepi dari tanggapan, produksi barongsai tetap dilakukan.
Saat ditemui detikJateng di rumahnya Jalan Daha No 36 Kota Magelang, Sandi tengah membuat barongsai ukuran kecil untuk anak-anak. Kepiawaiannya membuat barongsai dan liong tersebut turun-temurun dari kakeknya.

Meski sejak 11 tahun yang lalu menyandang disabilitas, namun tak menyurutkan semangatnya untuk terus memproduksi barongsai. Selain itu, ia duduk sebagai pembina di sejumlah klub barongsai di wilayah Magelang, Muntilan, hingga Temanggung.

“Membuat barongsai ini adalah warisan dari eyang saya. Dari eyang diturunkan ke mbah kakung. Saya diemong sama mbah kakung mulai dari diajari, pengenalan barongsai sejak kecil,” kata Sandi saat ditemui di rumahnya, Selasa (25/1/2022).

Sandi menuturkan, mulai membuat barongsai sejak usia 7-8 tahun. Pembuatan tersebut terus dilakukan hingga sekarang. Sekalipun saat pandemi sepi, namun tetap membuat barongsai. Barongsai dibuat bukan dijual secara umum melainkan untuk mencukupi kebutuhan 8 klub yang dibinanya.

“Mulai pembuatan kerangka pertamanya atau blok, diukur supaya seimbang, tidak kelihatan besar atau kecil (proporsional), kalau tidak seimbang tidak luwes. Kemudian diajarkan membuat pakemnya wajah barongsai kayak apa. Orang jual barongsai atau lihat pembuatan barongsai, setiap orang yang tidak tahu lihat, oh itu barongsai. Tapi yang pakem, yang luwes, yang ganteng, itu kayak apa. Nah itu yang tidak gampang. Saya dulu sudah mulai dibentuk seperti itu,” tutur Sandi yang memiliki nama Tionghoa, Liem Hauw Sian, itu.

Sandi masih ingat apa yang disampaikan kakeknya jika barongsai bukan politik melainkan kesenian. Bahkan saat Orde Baru ada larangan pentas barongsai dengan leluasa.

“Setelah pemerintahan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) ada angin baik untuk Magelang. Kami mulai membuat klub untuk meneruskan klub yang ada. Pengadaan aksesoris dan alat-alatnya, klub tinggal memilih. Mulai dari barongsai yang ukuran berapa,” ujarnya.

“Untuk itu (memenuhi) kebutuhan klub-klub ini kan jadi banyak karena keperluannya (perlengkapan) banyak. Tapi tidak profesional (komersil) maksudnya tidak untuk diperjualbelikan lalu membuat terus nanti lakunya berapa. Itu sistemnya seperti itu,” kata Sandi.

Sandi menambahkan, sebelum pandemi, menjelang Imlek klub yang berada di bawah Bhinneka Nusantara sering pentas di sejumlah hotel. Undangan main tersebut baik di hotel kawasan Borobudur maupun Jogja, namun saat pandemi ini tidak ada.

“Mereka di dalam Bhinneka Nusantara, tapi memiliki bendera sendiri-sendiri. Contoh sebelum pandemi ada klub kami kekurangan pemain di Jogja untuk pas Imlek di beberapa hotel. Kemudian kami tawarkan juga kepada rekan kami yang ada di Jogja. Kami membaur bersama, main di sana. Benderanya pakai yang dari sini,” ujar dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.